Upaya Menghambat Dakwah Islam di Bumi Papua

Kelompok Pelestari Konflik (KPK)
Upaya Menghambat Dakwah Islam di Bumi Papua

Oleh : Subhan Hassannoesi

Dibanding era rezim Soeharto, dakwah Islam di masa kini hampir diseluruh penjuru Indonesia menggeliat menampakkan keberhasilannya. Terbukti bahwa wacana syariat Islam bukan menjadi hal yang tabu lagi seperti di era Orde Baru, tapi sudah menjadi wacana umum dan sebagian umat telah menjadikannya sebuah target program dakwah.

Begitu juga halnya di Papua. Dakwah Islam di Papua pun dibanding beberapa tahun sebelumnya,kini tampak semarak. Beberapa penceramah kondang asal Jakarta pun berhasil didatangkan di bumi ini. Sebut saja Ustad.Hari Mukti dari HTI juga Hj.Irena Handono yang diundang datang ke Kaimana di awal tahun 2009. Belum termasuk Ulama, Syaikh dari Qatar dan Arab Saudi yang juga pernah didatangkan disini.

Ini semua adalah indikasi :
– Bahwa timbul kesadaran muslim Papua untuk menimba ilmu Islam lebih dalam.
– Bahwa bumi Papua adalah tanah yang aman, daerah dengan kondisi keamanan yang stabil dan kondusif.
– Bahwa keberagaman di Papua (SARA) bukanlah sebuah permasalahan. Masyarakat Papua telah cukup dewasa untuk menerima perbedaan tersebut. Ini terbukti dari bagaimana masyrakat disini bisa hidup rukun berdampingan walau berbeda agama.

Munculnya isu SARA di Manokwari akhir-akhir ini melalui grup-grup Facebook, jelas adalah sebuah kebohongan. Dan kebohongan ini sengaja dihembuskan, ditebar kemana-mana sehingga mengubah pandangan muslim di luar Papua. Sehingga kini mereka beranggapan bahwa muslim Papua hidup dalam kondisi tertekan, terdzalimi dan terancam tergadai aqidahnya.

Tentu saja, hal ini menyulut kemarahan muslim lain di wilayah luar Papua. Emosi massa melalui facebook, miling list, SMS sengaja dipermainkan, sengaja dibuat makin panas. Sehingga muncullah seruan-seruan untuk JIHAD (Perang) melawan umat Kristen Manokwari. Serta ungkapan-ungkapan seperti, “Kafir, halal darahnya”, dsb yang cukup mengerikan dan tentu kita semua tidak menginginkan ini terjadi.

Apa yang dilakukan, apa yang didukung oleh Ikhwah sekalian dalam gerakan-gerakan Facebook menolak Kota Injil Manokwari perlu dicermati lebih dalam. Jangan sampai tatanan masyarakat yang sudah terbentuk, keharmonisan yang telah lama terjalin, stabilitas keamanan bumi Papua serta dakwah yang sudah dibangun oleh aktivis-aktivis sebelumnya menjadi rusak demikian saja.

Sesungguhnya, dakwah Islam di Papua kini sedang berkembang cukup pesat. Dan ini semua akan rusak jika aktivis dakwah lebih cenderung menebar kebencian ketimbang menebar Rahmat. Justru akan mempersulit dakwah kawan-kawan yang ada di lapangan dan pedalaman. Konsentrasi dakwah kawan-kawan di akar rumput pun akan terpecah, yang ada malah menjadi saling mencurigai, menyusun strategi menjatuhkan lawan. Sedangkan pendalaman ilmu Islam ditinggalkan.

Mau tidak mau kita wajib jeli untuk memetakan kekuatan, mana kawan mana lawan dalam hal menyusun strategi dakwah. Pihak-pihak yang selalu menebar kebencian, permusuhan dan selalu menggiring pada perbuatan anarkis, radikal merupakan ciri khas dari Kelompok Pelestari Konflik (KPK).

Tuduhan Islam adalah radikal, Islam Teroris, bahkan pernah dibilang Indonesia adalah sarang terroris, sama sekali tidak pernah digubris oleh muslim Indonesia bahkan juga muslim dunia. Namun ada rekayasa sedemikian rupa, sehingga muncul kegiatan-kegiatan anarkis, aksi bom-bom, dsb. Ditambah pemutar balikan opini oleh media-media. Sehingga pada ujungnya pembenaran terhadap opini Barat, Islam = Teroris.

Patut diduga, Kelompok Pelestari Konflik inilah yang berperan ikut terlibat dalam rekayasa-rekayasa yang sudah terskenario. Dengan tujuan satu, mencegah syariat Islam untuk di terapkan di Indonesia.

Maka sudah saatnya bagi para aktivis dakwah untuk bersatu, merapatkan barisan, bersinergi membangun dakwah di Papua secara bersama-sama, apapun latarbelakang ormas/lembaga nya, untuk menghadapi pihak-pihak yang tidak menginginkan Islam menjadi penerang bagi bumi Papua yang akan menebarkan cahaya RahmatNya yang terpendam.

Rasulullah saw dalam hadis yang masyhur, “Kefakiran mendekatkan pada kekufuran.”

Kemiskinan dimanapun merupakan target sasaran bagi misionaris untuk melakukan pemurtadan, plus ditambah lemahnya iman/aqidah yang menyebabkan mudahnya orang berpindah agama.

“Sesungguhnya kefakiran itu dapat mengurangi agama, membingungkan akal dan mengajak pada kebencian.” (Nahjul Balaghah, hikmah 319)

Ali bin Abi Thalib ra juga berkata, “Sekiranya kefakiran itu berwujud, niscaya aku akan membunuhnya.”

Maka solusi konkret adalah Dakwah Islam dan Pemberdayaan Ekonomi Umat. Kedua hal ini harus berjalan beriringan. Hal ini bisa tercapai jika sinergi antar lembaga dakwah terjalin. InsyaALLAH !

Wallahu a’lam bishowab.
Jakarta, 4 Desember 2009.

Penulis adalah :
– Anggota Majelis Muslim Papua
– Domisili : Kaimana – Papua Barat

~ by Subhan Hassannoesi on December 14, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: